Jangan Heran Lihat Titik-titik Cahaya Hijau di Langit Tenggarong, Ini yang Sedang Dilakukan Pelayang

img

Langit Tenggarong dihiasi cahaya lampu dari layangan yang diterbangkan para pelayang hingga malam hari. (Doc Pelayang, Andri)

 

POSKOTAKALTIMNEWS, KUKAR : Jika malam hari melihat titik cahaya hijau menggantung di langit Tenggarong, jangan buru-buru mengira itu sesuatu yang aneh.

 

Cahaya tersebut berasal dari layang-layang yang sedang diterbangkan dalam waktu yang cukup lama oleh para pelayang, sebuah aktivitas yang kini kembali ramai seiring datangnya musim kemarau.

 

Layang-layang yang biasanya identik dengan permainan anak-anak ternyata memiliki cerita berbeda di tangan para penggiatnya.

 

Bagi komunitas layang-layang di Tenggarong, musim kemarau menjadi waktu yang dinanti karena angin yang lebih kencang membuat kondisi langit cocok untuk menerbangkan layangan.

 

Salah satu pelayang asal Tenggarong, Andri mengatakan, aktivitas menerbangkan layangan memang mulai banyak diminati ketika kemarau tiba.

 

Selain karena kondisi angin yang mendukung, menerbangkan layangan juga menjadi hobi yang rutin dilakukan bersama komunitas.

 

“Memang komunitas layangan ini mulai cukup banyak peminatnya, apalagi di musim kemarau begini. Angin yang ada di musim kemarau ini cukup kencang dan memang cocok untuk dilakukan penerbangan layang-layang,” ujarnya saat di hubungi pada Selasa (15/9/2026).

 

Bagi Andri dan kawan-kawan, aktivitas tersebut tidak selalu dilakukan dengan menerbangkan layangan secara aktif.

 

Mereka juga mengenal sistem panjer, yakni membiarkan layangan tetap berada di udara dalam waktu lama.

 

Aktivitas itu bahkan bisa berlangsung hingga malam. Karena itu, layangan mereka dilengkapi lampu sehingga tetap terlihat ketika langit mulai gelap.

 

“Kami biasanya menerbangkan dengan sistem panjer, yakni membiarkan layangan terbang atau didiamkan saja. Biasanya kami sampai malam menerbangkannya,” jelasnya.

 

Lampu yang terlihat dari bawah pun menjadi penanda sederhana keberadaan para pelayang. Salah satunya cahaya berwarna hijau yang kerap terlihat menghiasi langit Tenggarong pada malam hari.

 

“Kalau biasa lihat di langit-langit Tenggarong ada lampu warna hijau, itu biasanya kami lagi panjer layangan,” kata dia.

 

Aktivitas para pelayang tidak hanya berlangsung pada malam hari, ketika siang, sejumlah area persawahan menjadi lokasi yang dipilih untuk menerbangkan layangan.

 

Tempat terbuka membuat layangan lebih leluasa memanfaatkan hembusan angin.

 

Sementara itu, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kukar, Aji Ali Husni mengatakan, perkembangan penggiat olahraga layang-layang mulai terlihat di sejumlah wilayah.

 

Menurutnya, komunitas layang-layang mulai bermunculan di Kecamatan Loa Kulu, Loa Janan, hingga Tenggarong.

 

Layang-layang sendiri merupakan bagian dari olahraga rekreasi masyarakat yang berada di bawah KORMI.

 

“Penggiat olahraga layang-layang saat ini memang cukup mulai berkembang, dari Kecamatan Loa Kulu, Loa Janan, dan beberapa, termasuk Tenggarong, ini sudah mulai bermunculan,” ujarnya.

 

Menurutnya, musim kemarau dengan cuaca panas dan angin yang cukup kencang justru menjadi kondisi yang ditunggu para penggiat layang-layang.

 

“Panas, anginnya kencang, kemudian cuacanya juga seperti sekarang ini yang ditunggu-tunggu. Jadi perkembangannya di Kota Tenggarong cukup pesat,” kata dia.

 

Namun, perkembangan layang-layang di Kukar tidak berhenti pada aktivitas menerbangkan layangan.

 

Ia melihat ada potensi kreativitas yang dapat terus dikembangkan para penggiat, terutama melalui bentuk dan seni yang ditampilkan pada layang-layang.

 

Ia berharap kreativitas tersebut turut membawa identitas Kukar, baik melalui lukisan maupun bentuk layang-layang.

 

Dengan begitu, layang-layang tidak hanya menjadi permainan atau olahraga rekreasi, tetapi juga dapat menjadi media untuk memperkenalkan kekayaan budaya daerah.

 

“Harapan kami para pelayang ini terus kembangkan kreativitasnya. Karena di layang-layang ini tingkat kreativitas pemilik layang itu sangat ditentukan imajinasi mereka,” tuturnya.

 

Ia juga mendorong agar unsur khas Kukar mulai dituangkan dalam karya para pelayang. Menurutnya, bentuk maupun motif dapat dikembangkan dengan mengambil inspirasi dari budaya lokal.

 

“Harapan kami mungkin di balik seni layang-layang itu sudah dimunculkan seni-seni terkait dengan khas tanah Kutai Kartanegara, budaya Kutai Kartanegara. Mungkin dari lukisannya, mungkin dari bentuknya,” tutupnya. (Kriz)